p5rn7vb
Needs Assessment dalam Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa | Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Needs Assessment dalam Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa

needs-assessment

oleh Dr. H. Azis Mahfuddin, M.Pd.

Sistem pengajaran bahasa (seperti bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya) sangat memerlukan rancangan atau desain yang baik, agar tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Paradigma baru pengajaran bahasa terletak pada bagaimana menyusun dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan dalam pengembangan kurikulum yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Gambaran mengenai need assessment dalam pengajaran bahasa (asing) yang memasukkan unsur-unsur kurikulum pengajaran bahasa yang di dalamnya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum, analisis kebutuhan, rumusan tujuan, instrument dan lain-lain.

Bagaimana bentuk desain kurikulum yang sesuai dengan pembelajaran bahasa dapat tergambar, baik yang menyangkut needs analysis, objectives, testing, materials maupun yang menyangkut teaching dan evaluation.

A. Pendahuluan

Bidang pengajaran bahasa telah mengalami perubahan besar selama kurun waktu 30-40 tahun terakhir. Lingkup program pengajaran bahasa telah merambah dunia, bahkan berperan penting bagi teknologi baru dalam pengajaran bahasa. Program-program bahasa akan semakin berkembang dan berhasil baik, tergantung pada penggunaan pendekatan yang tergambar pada domain-domain perencanaan pendidikan. Hal ini sering melibatkan apa-apa yang telah diketahui sebagai bentuk pengembangan yang sistematis dari sebuah kurikulum bahasa.

Dalam bidang bahasa, pengembangan program bahasa dan pengembangan program pengajaran bahasa merupakan satu sistem yang dinamis dari unsur-unsur yang saling berhubungan. Pendekatan yang sistematis ini meliputi fase perencanaan, pengembangan, implementasi dan fase evaluasi pengajaran bahasa, yang telah diadopsi dari banyak bidang dalam perencanaan pendidikan.

Tulisan ini membahas masalah pengajaran bahasa yang berfokus pada needs assessment melalui perspektif pengembangan kurikulum, termasuk di dalamnya pengembangan dan implementasi program pengajaran bahasa secara khusus dan rasional.

B. Pokok Pembahasan

Ada tiga masalah pokok yang akan dibahas dalam tulisan ini, yakni kurikulum; analisis kebutuhan, dan tujuan. Masalah kurikulum berkenaan dengan sistem, di mana aktivitas pengajaran bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa hal yang berkaitan dengan pendekatan, silabus, tehnik latihan. Masalah ini dibahas dalam kaitannya dengan desain kurikulum, termasuk sejumlah unsur-unsur lain seperti penilaian kebutuhan (need assessment), tujuan (goals), pengujian (testing), materi (materials), pengajaran (teaching) dan evaluasi (evaluation)

Masalah need analysis atau need assessment berkenaan dengan apa-apa yang dibutuhkan dalam pengajaran bahasa. Kajian pendekatan yang berbeda terhadap penilaian kebutuhan ini, akan mengarahkan pada bagaimana menyiapkan, menyusun dan menggunakan informasi yang terbaik, dimana konteks program pengajaran bahasa secara spesifik dapat memenuhi kebutuhan individual dan kebutuhan kelompok siswa yang sedang belajar bahasa.

Tehnik-tehnik yang efektif dalam mengembangkan tujuan umum dan tujuan khusus dapat disusun selama fase analisis kebutuhan (need analysis). Kreiteria-kriterianya diformulasikan ke dalam tujuan khusus pengajaran bahasa dengan menggunakan istilah-istilah yang jelas dan tidak ambigu. Variasi tipe-tipe yang berbeda mengenai tujuan, dimasukkan ke dalam pembahasan, termasuk hal-hal mengenai tujuan yang bersifat behavioral ke tujuan yang bersifat pengalaman (experiential).

Dalam pengajaran bahasa asing ada empat istilah yang sering digunakan, yakni pendekatan (approach), metode (methode), desain (design) dan prosedur (procedure). Pendekatan mencakup pandangan terhadap teori tentang hakekat bahasa dan hakekat belajar bahasa. Metode digunakan untuk menguraikan rencana-rencana yang berbeda dalam menyajikan bahasa kepada para siswa dengan cara (gaya) yang teratur. Desain menggambarkan spesifikasi isi (content), spesifikasi peranan siswa (role of learners), spesifikasi peranan guru (role of teacher) dan spesifikasi peranan materi (role of materials). Sementara prosedur atau tehnik diartikan sebagai peristiwa (kejadian) aktual dalam kelas, khusunya mengenai trik, tipu daya (strategem) atau alat yang digunakan untuk menyelesaikan tujuan yang segera. Prosedur atau tehnik ini merupakan deskripsi tehnik-tehnik dan praktek-praktek dalam sistem pembelajaran.

Dalam aktivitas pengajaran bahasa, ada empat kategori aktivitas, sebagaimana dikemukan Richards & Rodgers.

1) cara-cara mendefinisikan apa yang perlu dilakukan siswa untuk belajar

2) cara-cara mengorganisasikan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan

3) cara-cara mempresentasikan (menyajikan) pelajaran secara aktual

4) cara-cara memprakatekkan apa yang telah diajarkan

Untuk menentukan kebutuhan, diperlukan pendekatan-pendekatan (approachs). Dalam pengajaran bahasa, ada cara atau pendekatan untuk menentukan mengenai apa yang dibutuhkan siswa dalam belajar. Pendekatan-pendekatan terhadap masalah tersebut mencakup lima pendekatan. Pertama, pendekatan klasikal (clasical approach); kedua, pendekatan terjemahan dan tata bahasa (grammar-translation approach); ketiga, pendekatan langsung (direct approach), keempat, pendekatan audiolingual (audiolingual approach), dan kelima, pendekatan komunikatif (communcative approach).

Dalam pengajaran bahasa ada silabus yang berkenaan pelajaran dan materi pelajaran. Silabus ini terdiri atas silabus struktural yang berfokus pada bentuk-bentuk tatabahasa; silabus situasional yang didasarkan pada ide (gagasan) dimana bahasa ditemukan dalam konteks dan situasi yang berbeda; silabus topik (topical syllabuses) menyangkut sejumlah teks-teks bahasa yang diorganisasikan; silabus fungsional yang berfokus pada penggunaan semantik; silabus notion, yakni silabus yang didasarkan pada konsep atau ide-ide; silabus keterampilan (skill syllabuses) yakni silabus yang berkenaan dengan keterampilan bahasa atau keterampilan akademik dimana siswa mampu menggunakan bahasa tersebut; dan silabus tugas (task syllabuses) yakni silabus yang berkenaan dengan aktivitas yang didasarkan pada kelompok aktivitas tertentu, seperti menggambar (drawing), membaca (reading), menulis (writing), memecahkan masalah (problem solving) dan lain-lain.

Sementara dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa diperlukan teknik-teknik yang sesuai dengan kondisi bahasa yang digunakan dan situasi yang ada. Teknik yang dimaksudkan di sini adalah cara-cara menyajikan atau mempresentasikan bahasa kepada para siswa. Teknik-teknik itu membentuk satu kelompok aktivitas pengajaran yang relatif tidak tergantung pada pendekatan dan silabus, sebagaimana dijelaskan di atas. Variasi teknik-teknik dapat digunakan untuk menyajikan silabus struktural yang didasarkan pada pendekatan langsung (direct approach).

Perbedaan atau jarak antara teknik (technique) dan latihan (exercises) sama dengan jarak antara cara menyajikan dengan cara mempraktekan bahasa. Dalam pengajaran yang baik, penyajian dan praktek mungkin tidak dapat dibedakan, setidaknya mencakup siswa, dimana guru menyajikan bahasa kepada mereka, dan kemudian siswa mempraktekkannya, dan diharapkan dalam belajar tersebut siswa memperoleh sesuatu yang baru dalam prosesnya.

Cara yang terbaik untuk memisahkan dua tipe aktivitas tersebut adalah berfikir mengenai latihan (exercises) sebagai tipe kegiatan yang dapat digunakan untuk menguji atau menilai siswa setelah pelajaran selesai. Cara-cara mempraktekkan bahasa jauh lebih banyak dan lebih beragam jika dibandingkan dengan cara mempresentasikan (menyajikan). Setiap latihan dianggap sama baiknya, termasuk aktivitas-aktivitas lain seperti imla (diktation), kerja pasangan (pair work), kerja kelompok (group work), pemecahan masalah (problem solving), melakukan tugas-tugas (doing tasks) dan lain-lain.

 

Pengembangan Kurikulum Bahasa

Pengembangan kurikulum adalah serangkaian aktivitas yang memberi kontribusi terhadap tumbuhnya konsensus antara staf, guru, administrasi, dan para siswa. Rangkaian aktivitas kurikulum tersebut akan memberikan satu kerangka yang dapat membantu guru untuk menyelesaikan berbagai kombinasi aktivitas mengajar yang paling tepat dan profesional bagi satu situasi, dimana kerangka kerja tersebut juga membantu siswa dalam belajar secara efektif dan efisien. Artinya, bahwa proses desain kurikulum dapat dipandang sebagai sesuatu yang memudahkan guru dan siswa dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Model kurikulum bahasa tidak hanya menggambarkan tentang literatur pengajaran bahasa saja, tetapi juga model-model umum yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan sistem yang ditetapkan dalam desain kurikulum.

Model ini penjelasannya dapat membantu mengembangkan konsensus antar guru mengenai unsur-unsur apa yang esensial dari kurikulum dan bagaimana kurikulum tersebut berinteraksi dalam situasi pengajaran khusus.

Model tersebut dapat digambarkan dalam bentuk bagan berikut ini :

(Systematic Approach to Designing and Maintaining Language Curriculum) Brown, 1989

Perlunya Needs Analysis Dalam Pengembangan Kurikulum

Need analysis ( need assessment ) dalam pengembangan kurikulum sangat diperlukan. Menurut Oliva (Oliva, 1992: 246) “a curriculum need assessment is a process for identifying programmatic needs that must be addressed by curriculum planners”. Analisis kebutuhan digunakan untuk menilai dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan siswa dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum, karena pengembangan kurikulum hakekatnya berorientasi pada kebutuhan siswa (need of learners) dan kebutuhan masyarakat ( need of society), termasuk kebutuhan mata pelajaran (need of subject matters). Need assessment juga digunakan untuk mengidentifikasi gap atau ketidak-sesuaian antara performansi siswa yang dinginkan (das Sollen) dengan performansi siswa yang nyata (das Sein). Dalam sistem persekolahan need assessment diperlukan untuk menemukan kekurangan-kekurangan kurikulum yang menyangkut misalnya kerja sama komunitas sekolah dan pemahaman terhadap program-program sekolah untuk kemudian diperbaiki.

Analisis kebutuhan atau need assessment dalam program pengajaran bahasa, sering dianggap sebagai pengidentifikasian bentuk-bentuk bahasa yang akan diperlukan siswa untuk digunakan dalam bahasa target (bahasa yang dipelajari). Mereka perlu memahami dan berusaha untuk memproduksi bahasa secara aktual. Yang menjadi fokus analisis dalam masalah ini adalah para pembelajar dan kebutuhan-kebutuhannya dilihat dari konteks linguistik.

Dalam istilah umum, need assessment atau disebut juga need analysis berhubungan dengan aktivitas yang meliputi pemerolehan informasi yang akan menjadi dasar bagi pengembangan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan belajar, khususnya kelompok siswa. Dengan kata lain, bahwa need assessment ini adalah bagian integral dari pembuatan kurikulum yang sistematik.

Need assessment atau need analysis secara formal adalah sesuatu yang relatif baru dalam lingkup pengajaran bahasa. Need assessment ini di beberapa negara telah diadakan bertahun-tahun oleh guru-guru yang ingin menilai tentang poin-poin bahasa yang diperlukan peserta didik dalam belajar. Sumber-sumber informasi untuk need assessment secara informal dapat diperoleh dari skor tes bahasa, fakta-fakta yang diperoleh dari hasil angket tentang seberapa lama mahasiswa telah berlatih bahasa, dan juga hasil interview guru untuk mengetahui kemampuan kognitif mahasiswa dan kemampuan linguistik. Dalam menganalisis kebutuhan (need assessment) tersebut ada 3 tahap yang harus ditempuh :

1. Membuat keputusan mengenai need assessment (need analysisi)

  1. Memperoleh informasi. dan

3 Menggunakan informasi

Namun sebelum analisis kebutuhan ini dilakukan, para perencana kurikulum harus membuat keputusan secara fundamental. Siapa yang akan melibatkan diri dalam need assessment? Tipe-tipe informasi apa yang harus didapatkan? Poin-poin yang mana yang dianggap representatif?

Orang-Orang yang Terlibat dalam Need Analysis

Ada empat kategori orang yang bisa terlibat dalam need analysis, yakni kelompok target (target group), pendengar (audience), para penganalisis kebutuhan itu sendiri (need analysis) dan sumber kelompok (resource group).

Target group berkenaan dengan dari siapa informasi itu akan diperoleh, dan biasanya target group itu adalah siswa dalam sebuah program, atau kadang-kadang para guru dan para administrator. Audience adalah semua orang yang akan diberikan tindakan terhadap analisis. Kelompok ini biasanya terdiri atas guru-guru, guru bantu, para administrator program dan orang-orang yang terlibat dalam program bahasa. Penganalisis kebutuhan mencakup orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengadaan need analysis, diantaranya para konsultan, para anggota pengajar yang berkaitan dengan pekerjaan itu, dan lain-lain. Sedangkan resource group adalah orang-orang yang bertindak sebagai sumber informasi mengenai target group, seperti para orang tua, para sponsor keuangan atau para wali kelas atau wali murid.

Sesuai dengan pandangan Stufflebeam (1977) ada empat macam prinsip yang dapat memenuhi satu analisis kebutuhan, yakni prinsip diskrepansi, prinsip demokrasi, prinsip analitik dan prinsip diagnostik. Pentingnya prinsip-prinsip ini terletak pada fakta yang akan mempengaruhi informasi yang akan diperoleh.

Prinsip diskrepansi (discrepancy philosophy) adalah salah satu kebutuhan yang dianggap sebagai sesuatu yang berbeda, atau adanya ketidak-sesuaian antara performansi yang diharapkan dari mahasiswa dengan apa yang mereka lakukan. Hal ini mengarah pada perolehan informasi yang rinci mengenai apa yang dibutuhkan untuk mengubah performansi mahasiswa, misalnya tentang pengucapan fonem p dan b dalam bahasa Inggris.

Prinsip demokrasi (democratic philosophy) adalah satu kebutuhan yang diartikan sebagai perubahan yang dilakukan oleh mayoritas kelompok, diantaranya para siswa itu sendiri, para guru, para administrator program, para pemilik privat (sekolah bahasa) dan lain-lain. Prinsip demokrasi ini mengarah pada satu analisis kebutuhan dalam memperoleh informasi mengenai belajar yang kebanyakan dilakukan oleh kelompok-kelompok pilihan.

Prinsip analitik (analytic philosophy) adalah satu kebutuhan, di mana para siswa secara alami belajar berdasarkan pada apa yang telah diketahui oleh mereka, termasuk proses belajar. Sedangkan prinsip diagnostik (diagnostic philosophy) beranggapan bahwa kebutuhan adalah sesuatu yang akan membuktikan bahaya bila kebutuhan itu lepas. Prinsip ini mengarah pada analisis mengenai pentingnya keterampilan berbahasa bagi para imigran agar survive di negara yang mereka tempati. Ini artinya sebuah kajian atau studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan kebutuhan harian para imigran

Salah satu tugas para penganalisis kebutuhan adalah untuk menyelidiki kebutuhan melalui semua ide dan informasi mereka, dan lingkup investigasi. Ada tiga dasar dikotomi yang dapat membantu memilih tentang apa yang diinvestigasi dalam analisis kebutuhan. Hal mengenai pandangan, diambil dari masing-masing dikotomi ini yang akan terkait dan dipengaruhi oleh filsafat yang dominan dalam program yang diberikan. Ketiga dikotomi tersebut adalah:

1) Kebutuhan situasi versus kebutuhan bahasa

2) Kebutuhan objektif versus kebutuhan subjektif

3) Isi (content) linguistik versus proses belajar

Pertama, dikotomi mengenai kebutuhan situasi versus kebutuhan bahasa. Dikotomi ini berbeda dengan dua tipe informasi yang ditemukan dalam program bahasa. Beberapa informasi berpusat pada aspek program kemanusiaan, yakni aspek fisik, sosial, dan konteks psikologis yang berhubungan dengan belajar. Kebutuhan-kebutuhan (needs) ini berhubungan dengan tipe informasi yang diberi label “situation needs”. Setiap kebutuhan biasanya berkaitaan dengan administrasi, finasial, logistik, kekuatan manusia, pedagogik, agama, budaya, pribadi atau faktor-faktor lainnya. Sementara “language needs” merupakan informasi tentang target prilaku linguistik yang harus diperoleh oleh si pembelajar, seperti rincian mengenai lingkup bahasa yang akan digunakan, termasuk dimensi kompetensi bahasa, alasan si pembelajar belajar bahasa, dan lain-lain.

Kedua, dikotomi mengenai kebutuhan objektif versus subjektif.

Dikotomi ini berkaitan dengan tipe-tipe informasi dalam analisis kebutuhan (needs analysis), baik kebutuhan objektif maupun subjektif. Kebutuhan objektif (objective needs) adalah kebutuhan yang ditentukan oleh dasar dari data-data yang diperoleh secara nyata dan observable mengenai situasi, pembelajar, bahasa yang diperoleh oleh siswa, level keterampilan dan kecakapan dan lain-lain. Sementara kebutuhan subjektif (subjektive needs) umumnya lebih sulit untuk ditentukan, karena mereka harus melakukannya dengan “permintaan” (wants), keinginan (desires) dan pengharapan (expectation) (Brindley, 1984). Untuk membedakan antara kebutuhan objektif dan subjektif harus dilakukan melalui kemampuan mengamati kebutuhan-kebutuhan, bukan dengan tipe data yang diperoleh. Data kuantitatif dan data kualitatif keduanya dapat diperoleh melalui kebutuhan subjektif dan objektif.

Ketiga, dikotomi isi (content) linguistik versus proses belajar.

Dikotomi ini penting untuk menangkap makna saat penyortiran informasi dalam analisis kebutuhan antara kebutuhan khusus dalam arti content yang harus dipelajari pembelajar, dengan kebutuhan khusus dalam arti proses belajar. Content linguistik menyangkut istilah-istilah fonem, morfem, struktur grammatik, aturan kasus, ucapan, fungsi, pikiran atau ide, percakapan dan lain-lain.

Proses belajar bersandar pada kebutuhan khusus dari perspektif kebutuhan situasi yang cenderung menjadi lebih subjektif dalam domain afektif seperti motivasi (motivation) dan harga diri (self esteem). Dikotomi ini analog atau sama dengan perbedaan antara “arti kebutuhan berdasarkan tujuan” dengan “ arti kebutuhan berdasarkan proses” (menurut Widdowson’s, 1981), atau antara “isi (content) bahasa” dengan “isi (content) belajar” (Brindley, 1984); atau antara “parameter isi” (content) dengan “parameter metodologi” (Nunan’s, 1985).

Richards, Platt, dan Weber (1985) menyarankan bahwa needs assessment mencari informasi pada :

  1. situasi dimana bahasa akan digunakan (termasuk oleh siapa dan dengan siapa)
  2. tujuan-tujuan pada bahasa yang dibutuhkan
  3. tipe-tipe komunikasi yang akan digunakan (tertulis, lisan, formal, informal)
  4. tingkat kecakapan yang akan diperoleh.

 

Tipe-Tipe Pertanyaan (Types of Questions) dalam Need Analysis

Rossett (1982) mengidentifikasi lima kategori pertanyaan yang didesain untuk identifikasi masalah, prioritas, kemampuan, sikap dan solusi.

Masalah (problems) berkaitan dengan pertanyaan 1) masalah apa yang dihadapi mahasiswa ketika berbicara dengan native speaker bahasa Inggris? 2) Bagaimana pendapat guru tentang bahasa Inggris para mahasiswa? 3) Sumber kesulitan apa yang dihadapi guru dalam menghadapi mahasiswa asing? 4) Bagaimana pendapat para administrator mengenai pengorganisasian belajar ( secara fisik ) bagi para mahasiswa program bahasa?

Pertanyaan prioritas menyelidiki mengenai topik-topik, penggunaan bahasa, keterampilan dan lain-lain yang dianggap sangat penting bagi target kelompok dalam belajar. Pertanyaan-pertanyaan prioritas mengacu pada pertanyaan yang bisa diajukan berkaitan dengan keterampilan membaca (reading), menulis (writing), menyimak (listening), berbicara (speaking) dan tata bahasa (grammar). Pertanyaan mengenai kemampuan (ability) berfokus pada siswa itu sendiri, dan biasanya digunakan untuk menentukan kemampuan mereka pada saat masuk.

Pertanyaan tentang sikap (attitude) ditujukan untuk para siswa dalam rangka menjaring informasi mengenai sikap dan rasa partisipasi terhadap unsur-unsur program, misalnya apakah mahasiswa menyukai “tata bahasa (grammar)” atau tidak. Bagi guru, apakah guru merasa bahwa mahasiswanya belajar bahasa Inggris itu lebih baik?

Pertanyaan mengenai solusi adalah terdapatnya perubahan dari apa yang diharapkan. Solusi merupakan upaya mencari penyelesaian program, karena di dalamnya terdapat masalah yang berkaitan dengan politik (misalnya).

 

Jenis-Jenis Instrumen dalam Need Analysis

Jenis-jenis instrumen terdiri atas :

a) existing information yang prosedurnya meliputi record analysis, system analysis, literatur review, leter writing;

b) test, prosedurnya meliputi tes proficiency, placement, diagnosis, atau achievement;

c) observations, dengan prosedur case study, diary study, behavior observation, interactional, dan inventory;

d) interview yang mencakup individual interview dan group interview; dan e) meettings dengan prosedur delphi technique, advisory meetings, interest group meetings dan review meetings. f) angket (questionaires) yang mencakup biodata survey, self-ratings, judgmental ratings dan Q sort (James Dean Brown, 1995).

 

Membuat dan Memilih Prosedur

Ada tiga karakteristik yang harus dipertimbangkan bila menggunakan prosedur perolehan informasi. Pertama, karakteristik prosedur yang meliputi reliabilitas, validitas dan usabilitas (usability). Reliabilitas diartikan sebagai konsistensi dengan prosedur pemerolehan informasi. Validitas diartikan sebagai derajat pengukuran sesuai dengan apa yang diukur. Usabilitas diartikan sebagai tingkat kebergunaan secara praktis. Kedua, keuntungan dan kerugian prosedur yang berbeda. Keuntungan dan kerugian ini berkenaan dengan analisis yang menggunakan kombinasi berbagai prosedur yang menghasilkan sebuah proses pemerolehan informasi yang lebih kuat. Dengan kata lain, sumber-sumber informasi harus digunakan dalam analisis kebutuhan.

Kebutuhan, Tujuan umum (goals) dan tujuan khusus (objektives)

Bagian ini membahas mengenai 1) hakekat dan hubungan antar kebutuhan-kebutuhan, tujuan umum (goals) dan tujuan khusus (objektives); 2) proses yang mencakup tujuan instruksional khusus; 3) alasan atau argumentasi mengenai penggunaan tujuan; dan 4) contoh-contoh tujuan umum dan tujuan khusus.

a) Tujuan umum (goals)

Tujuan umum (goals) ini diartikan sebagai pernyataan (statement) umum yang berkenaan dengan tujuan program dan tujuan yang diturunkan dari tujuan yang lebih tinggi (aims) yang didasarkan pada kebutuhan bahasa dan kebutuhan situasi yang dirasakan.

Pada tujuan umum (goals) dalam hubungannya dengan kebutuhan yang dirasakan, ada empat hal yang harus diingat, yakni bahwa: 1) tujuan itu adalah satu statement umum dari tujuan program; 2) tujuan biasanya berfokus pada program apa yang diharapkan untuk penyempurnaan pada masa yang akan datang, dan apa yang harus dilakukan mahasiswa jika mereka menunda program tersebut; 3) tujuan (goals) dapat dianggap sebagai dasar pengembangan bagi tujuan-tujuan khusus (objektives) yang dapat diamati (observable); 4) Tujuan (goals) harus dipandang sebagai sesuatu yang permanen.

Dengan demikian, dari keempat hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan merupakan satu statement sebagai basic (dasar) pengembangan pendeskripsian secara khusus tentang jenis-jenis prilaku belajar yang akan diprogramkan. Hal ini dapat disebut juga tujuan instruksional.

b) Tujuan khusus (objektives)

Dalam konteks pengajaran (instruction), instructional objektives diartikan sebagai satu pernyataan (statement) khusus yang berkaitan dengan pengetahauan khusus (knowledge), perilaku (behavior), dan keterampilan (skill), dimana si pembelajar diharapkan mengetahui atau memahami akhir dari program belajar.

Untuk menjelaskan hal tersebut, berikut ini contoh tujuan khusus (objektives) sebagai tujuan akademis di sekolah bahasa.

Pada akhir pelajaran, mahasiswa harus dapat :

a. memahami istilah seperti footnotes, bibliografi, halaman judul (title page) dan lain-lain;

b. mengambil catatan khusus ( hal-hal penting) mengenai kesusasteraan.

c. menjawab pertanyaan-pertanyaan melalui ungkapan lisan.

Menurut Mager (1975) ada komponen pokok dalam merumuskan tujuan khusus yang didasarkan pada esensi karakteristik yang spesifik, yakni 1) performansi (tentang apa yang dapat dilakukan oleh si pembelajar), 2) kondisi ( kondisi yang penting mengenai performansi yang akan terjadi), 3) kriteria ( mengenai level atau kulitas performansi yang dapat diterima.

Kriteria yang esensial yang dimaksud oleh Mager adalah tujuan khusus (objectives) mengenai “apakah mereka (siswa) itu dapat berkomunikasi?” Karena itu menurut Mager ada tipe tujuan pembelajaran dengan lima unsur pokok yang berkaitaan dengan pembelajaran bahasa, yakni subject, performance, conditions, measure dan criterion. Subject merupakan satu unsur yang sangat penting dalam memikirkan rumusan tujuan khusus. Subject ini berkaitan dengan siswa (students), pembelajar (learners) atau partisipan (workshop participants). Performansi berkenaan dengan pertanyaan “apa yang dapat dilakukan oleh siswa (subject) pada akhir pelajaran?”. Tentu saja fokus tujuan khusus bahasa harus berkaitan dengan apa yang dapat dilakukan siswa (learners) dengan bahasa itu. Kata “dapat melakukan (can- do)” harus menjadi sesuatu fokus dalam pengajaran bahasa. Istilah kondisi (conditions) di sini dimaksudkan bahwa apa yang dapat dilakukan siswa adalah berguna (useful), artinya bahwa untuk melakukan (to perform) sesuatu itu akan terjadi apabila kondisi tersebut menunjang performansi yang diharapkan. Sementara kunci dalam mengukur bagian dari sebuah tujuan khusus (objectives) berkenaan dengan bagaimana performansi itu dapat diamati atau diuji. Artinya bahwa mengukur (measure) adalah bagian dari sebuah tujuan khusus yang berhubungan dengan bagaimana performansi itu dapat diobservasi. Karena itu alat ukur yang dapat digunakan adalah berupa tes dengan bentuk tes pilihan berganda (multiple choice), benar-salah (true-false), isian (matching) dan lain-lain.

Kriteria pencapaian tujuan khusus ini dapat diambil sekitar 75% dari seluruh jawaban yang ada. Artinya bahwa tujuan bisa dianggap tercapai apabila kriterianya mencapai minimal 75 %. Apabila pencapaian tujuan 74%, prosentase tersebut tidak dianggap kriteria minimal; dengan kata lain tujuan khusus belum tercapai.

Ide tujuan khusus pembelajaran disusun dari keyakinan bahwa institusi pendidikan dapat dibuat lebih efektif jika usaha manusia dapat dianalisis secara ilmiah. Preparasi siswa untuk usaha-usaha yang beragam tersebut dapat digambarkan secara sistematik dalam kurikulum sekolah. Penspesifikasian aktivitas sekolah akan menjadi tujuan-tujuan pendidikan (Bobit, 1924). Sementara Tyler (1949) memperhalus ide ini dengan mengusulkan garis pedoman dalam mengembangkan tujuan-tujuan. Ia yakin bahwa tujuan pendidikan yang dirumuskan dengan sangat baik akan merubah perilaku siswa secara baik pula.

Hambatan yang dihadapi dalam upaya pengembangan kurikulum adalah bahwa tidak setiap orang dalam bidang pengajaran bahasa sependapat dengan ide tentang penggunaan tujuan-tujuan pembelajaran; seperti halnya melanjutkan rumusan dari tujuan pembelajaran yang sangat umum menuju tujuan pembelajaran yang sangat khusus. Nampaknya ini juga berlanjut pada sikap antara guru-guru bahasa yang tidak menyukai apa yang disebut dengan tujuan instruksional.

Steiner (1975) berpendapat bahwa kebanyakan para pengembang kurikulum harus menemukan satu kesepakatan antar hal-hal yang bersifat ekstrim. Keluhan utama yang muncul dalam hal tujuan adalah 1) tujuan diasosiasikan dengan psikologi behavior; 2) tujuan merupakan sesuatu yang tak dapat dikuantifikasikan; 3) tujuan mengabaikan pengajaran; 4) tujuan membatasi kebebasan guru, dan 5) belajar bahasa secara sederhana tidak dapat diekspresikan ke dalam tujuan-tujuan.

Kelima hal teresebut menjadi hambatan bagi upaya pengembangan kurikulum yang sebenarnya memerlukan komitmen yang sepaham dari para pelaksana kurikulum termasuk di dalamnya para guru.

 

C. Kesimpulan

Sistem pengajaran bahasa (seperti bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya) sangat memerlukan rancangan atau desain yang baik, agar tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Paradigma baru pengajaran bahasa terletak pada bagaimana menyusun dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan dalam pengembangan kurikulum yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Tulisan ini memberi gambaran mengenai need assessment dalam pengajaran bahasa (asing) yang memasukkan unsur-unsur kurikulum pengajaran bahasa yang di dalamnya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum, analisis kebutuhan, rumusan tujuan, instrument dan lain-lain.

Makalah ini juga mencoba membahas dan mengkaji pengajaran bahasa secara lebih mendalam mengenai perspektif pengembangan kurikulum bahasa dari berbagai sisi

Fokus utama yang menjadi bahasan ini adalah bagaimana bentuk desain kurikulum pembelajaran bahasa dapat tergambar, baik yang menyangkut needs analysis, objectives, testing, materials maupun yang menyangkut teaching dan evaluation.

Dalam pengajaran bahasa, beberapa dimensi pokok perlu mendapat perhatian, diantaranya linguistic content, learning processes, objective, subjective dan situation. Linguistic content berkaitan dengan hakekat bahasa dan unsur-unsur bahasa yang berkenaan dengan fonologi, morfologi sintaksis dan semantik. Learning process berkaitan dengan proses belajar siswa dalam mempelajari bahasa. Objective berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai. Subjective berkaitan dengan siswa (students) dengan segala kebutuhan dan minatnya. Sedangkan situation menyangkut masalah kondisi atau situasi dalam belajar, dimana siswa membutuhkan suasana yang memungkinkan untuk belajar

Tinggalkan komentar

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>